Kinau di filmkan karya Asdar Muis RMS

Novel Eksekusi Menjelang Subuh Karya Asdar Muis RMS Di filmkan

DARADAENG.COM – Film pendek Kinau adalah hasil adaptasi novel dari karya dari seorang budayawan yakni Asdar muis RMS yang berjudul Eksekusi Menjelang Subuh. Film ini di buat karena tugas semester salah satu mata kuliah Ilmu Komunikasi Universitas Fajar yang di kerjakan oleh mahasiswa konsntrasi broadcasting angkatan 2013.

Sutradara, Kurniawan Dwi Putra mengatakan kita memilih adaptasi novel ini untuk menjadikan karya film pendek karena di novel ini menunjukkan asli khas dari pulau Ternate dan Kota Makassar. sekaligus mengenang salah satu dosen kita di Unifa.

Kinau di filmkan karya Asdar Muis RMS

“ Alasan kita membuat film ini karena kita mau mengasah bakat kami di dunia broadcaster, selain itu dalam cerita film ini menunjukkan khas 2 daerah yang berbeda di Indonesia. Proyek film ini rencananya akan memilih 3 tempat yakni, di tempat pembudidayaan Rumput laut Dusun Kuri Ca’di Kecamatan Marusu’ kabupaten Maros dan di Benteng Rotterdam, dan pelabuhan paotere Makassar.,”ujarnya

Dalam novel Eksekusi Menjelang Subuh ini menceritakan Kinau adalah anak asli dari pulau ternate yang merantau ke Kota Makassar karena di kampung anak tersebut , orang tuanya tidak merestui hubungan Kinau dengan Maemunnah.

Di suatu hari, Kinau dengan Maemunah sudah berencana kabur dari pulau Ternate. Namun, Maemunah tidak kunjung hadir hari itu. Akhirnya kinau memutuskan untuk pergi seorang diri. Entah kemana dia berlabuh akhir dia terdampar di lautan dan diselamatkan oleh Dg. Towa warga asli Makassar adalah seorang yang sangat sering berlayar dengan kapal phinisi nya.

Film pendek Kinau

Kinau pun akhirnya sampai di Makassar, dan di pelihara oleh Dg.Towa dan Istirinya yang bernama Dg.Bau. di akhir ceritaDg Towa di bunuh oleh tentara Belanda saat berada di Surabaya, Kinau akhirnya di eksekusi mati di Benteng Fort Roterdam oleh tentara belanda karena sudah menikam salah satu tentara belanda karena ingin membalaskan dendamnya.

Penulis Skenario, Elisabet Irsan mengungkapkan dalam penulisan skrip ini tidak selengkap dengan yang ada di novel.

“ Kita tidak mengambil semua cerita yang ada di novel karena ini hanya sebatas film pendek saja. Namun, dalam penulisan scenario nya juga sudah di mudahkan karena novelnya sudah sangat lengkap,” tuturnya

Disisi lain, Executive Produser, Putri Amaliah Amanda mengatakan dalam film ini membutuhkan dana yang sangat maximal dalam kalangan mahasiswa karena alat-alat produksinya sangat susah di dapat.

“ Dalam proyek ini kita membutuhkan tenaga ekstra karena kita harus mencari alat-alat produksi dan busana-busana jadul contohnya baju tentara belanda jaman dulu.

Tugas atau proyek film ini di berikan langsung oleh dosen ilmu Komunikasi, konsentrasi Broadcasting unifa. Mata kuliah feature and documenter yakni Jupriadi Asmaradhana, S.sos.

Tinggalkan Balasan