Perahu Pinisi Kekayaan Alam Yang Terpendam

DARADAENG.COM – Perahu pinisi ialah salah satu perahu layar tradisional suku bugis makassar yang sudah mendunia, Pinisi sudah ada sejak berabad silam, jika melihat mekanika pembuatanya yang hanya menggunakan alat-alat yang tradisional dan manual oleh tangan manusia, memang agak sulit diterima oleh nalar bagaimana mungkin sebuah perahu besar bertonase ratusan itu, bisa selesai dengan cara sederhana itu, Akan tetapi faktanya selama ini

Perahu pinisi selalu dibuat dengan sukses , keunikan lain dari pinisi yakni seluruh perangkat perahu terbuat dari kayu ini, dirangkai tanpa menggunakan paku besi melainkan hanya menggunakan pasak kayu dan lem perekat

Perahu Pinisi mengandalkan layar layar lebar yang diarahkan yang diarahkan sedemikian rupa agar memperoleh angin untuk mendorong perahu agar bergerak, melaju dan melayari samudra dari benua ke benua, Perahu Pinisi paling mampu melepaskan diri dari amukan badai dan topan untuk sampai ke tempat tujuan.

Sepanjang sejarah tak pernah ada kabar bahwa perahu phinisi mengalami kecelakaan misalnya karena tenggelam dihempas badai atau menabrak karang dan belum ada catatan valid untuk dijadikan bukti otentik siapa tokoh penemu pinisi, kapan dibuat didaerah mana dan tahun berapa pertama kali di layarkan serta dari dan kemana tujuan pertamanya.

Perahu Pinisi

Perahu Pinisi

Para ahli sejarah dan antropologi hanya sepakat bahwa perahu pinisi merupakan perahu tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang bugis makassar sejak dahulu kala secara turun temurun dari generasi ke generasi hingga kini.

Perahu Pinisi

Namun selalu ada usaha imajinatif yang mencoba menarik benang merah asal mula penciptaan pinisi. Imajinasi ini dikaitkan dengan mitos yang sangat dipercaya oleh masyarakat bugis Bulukumba bahwa cikal bakal perahu phinisi merajuk kepada salah satu episode kisah I Laga Galigo tentang sawerigading tersebutlah ketika sawerigading

Sudah bertekad pergi ke Negeri Cina, maka terlebih dahulu dia harus membuat perahu karena negeri Cina yang akan di tujunnya berada jauh di seberang lautan. Sawerigading lalu mencari pohon untuk dibuat perahu. Di sebuah hutan yang lebat, dia menemukan sebatang pohon yang amat besar dan tinggi karena saking tingginya pucuk pohon itu tidak kelihatan karena ditutupi awan. pohon ini dinamakan Walenrannge.

Pohon inilah yang yang akan di tebangnya dan dibuat perahu, Persoalan pun mulai muncul karena ternyata pohon ini sangat kuat tidak bisa ditebang dengan menggunakan kapak atau parang biasa. Karena kuatnya pohon ini diberi gelar pohon dewata artiya pohon milik dewata, agar pohon tersebut dapat ditebang, sawerigading lalu berdoa meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa, Selesai berdoa, tiba tiba ada kapak emas diturunkan dari langit, dengan kapak emas itulah pohon Walarennge ditebang dan lansung rebah dan tenggelam hingga kedasar laut.

Masih yang empunya kisa menuturkan, pekerjaan membuat perahu bukan dilakukan oleh manusia biasa melainkan dikerjakan oleh keluarga dewata yang bermukim didasar laut dan tetap dikerjakan didasar laut hingga tidak terlihat oleh manusia, dan beberapa hari kemudian muncullah sebuah perahu besar laut dan beberapa buah perahu kecil disekitanya. Perahu besar itulah yang digunakan sawerigading bersama para pengawalnya mengarungi samudra laut Tiongkok Selatan yang dikenal dengan badainya yang dasyat, menuju daratan cina untuk menemui wanita cantik bernama We Cudai yang kelak diperistrikanya.

Bertahun tahun setelah Sawerigading hidup bersama We Cudai di Kerajaan Cina Muncul Hasratnya untuk pulang ke Kerajaan Luwu, karena masalahya teringat akan sumpah ketika meniggalkan kerajaan bahwa dia tidak akan kembali lagi ke Luwu, tetapi rasa rindunya untuk kedua orang tuanya sulit untuk membendung, rasa rindunya menggugat sumpahnya, Maka dia tetap memutuskan untuk kembali.

Maka dipersiapkanya perahu Walarennge yang dulu ditumpanginya ke Cina, segala sesuatu dipersiapkan maka Sawerigading memulai pelayaran kembali, Pelayaran semula aman-aman saja, namun setelah berada ditengah samudra, terjadilah badai yang dahsyat.

Angin dan gelombang laut bergelora, perahu yang ditumpangi Sawerigading bersama istri dan anak buahnya, terguncang diamuk badai, walaupun Sawerigading bersama anak buahnya berusaha sekuat tenaga melawan alam yang marah akhirnya perahu besar itu, terhempas oleh gelombang tinggi pecah berantakan berkeping keping, semua pengawal Sawerigading tenggelam, seketika itu Sawerigading dan Istrinya dijemput oleh Dewa Langit dan dibawa keistana kerajaan luwu di Bottilangi Luwu timur.

Perahu Pinisi

Bagian-bagian kepingan perahu Walarennge hanyut kemana-mana dan bererapa potongan badan perahu terdampar di dusun Ara, Desa Tanaberu, Bulukumba, tiang dan layarnya hanyut sampai di pantai Bira dan isi kapal banyak ditemukan di Lemo-lemo.

Disinilah Mitos Perahu Pinisi bermula, Masyarakat Ara di Tana Beru yang mendapatkan bagian bagian badan Walarennge menganggap bahwa itulah Isyarat agar orang Ara menjadi pembuat perahu untuk melanjutkan Tradisi Sawerigading, dan Orang Tanjung Bira ditakdirkan menjadi Jurumudi atau Nahkoda, sedangkan orang lemo lemo yang menemukan barang-barang isi perahu mengisyaratkan bahwa mereka cocok jadi pedagang, perantau dan membawa barang barang untuk diperjual belikan dari Pulau kepulau .

Demikianlah orang Bulukumba Arif menerjemahkan pesan budaya nenek moyangnya, sekaligus melestarikan hingga kini, Itulah sebabya Pembutan Perahu Pinisi hanya ada di Kabupaten Bulukumba. Pada hal jika dipikir para arsitek pembuat perahu Pinisi tersebut tidak seorang pun yang pernah belajar di Lembaga pendidikan Formal tentang perkapalan, Mereka Ahli Membuat perahu pinisi secara Otodidak yang mereka peroleh dar sejumlah pengalaman.

Demikianlah Persembahan dari saya mengenai perahu Pinisi, Nah buat anda yang ingin berwisata Ke Tanjung Bira Sulawesi Selatan Jangan lupa Mampir di Tana Beru untuk Melihat Proses pembuatan Perahu Pinisi secara Langsung. semoga dapat bermanfaat. Perahu Pinisi Kekayaan Alam Yang terpendam Merupakan Hal hal unik di Sulawesi Selatan.

Satu gagasan untuk “Perahu Pinisi Kekayaan Alam Yang Terpendam”

  1. setuju saya mas.. bahkan jenis perahu ini memang jennis terbaik di era itu mas.. sangat terkenal di seantero jagad pelayaran 🙂 indonesia emang keren.. sayang 🙁

Tinggalkan Balasan