Rambusolo Nilai Sebuah Kematian Tana Toraja

DaraDaeng.comRambusolo Nilai Sebuah Kematian Tana Toraja Kematian bagi banyak orang merupakan peristiwa yang menakutkan, meskipun kematian itu bersifat mutlah bagi semua orang, tanpa terkeculi bagi mahluk yang hidup, Dalam masyarakat tana toraja yang menganut kepercayaan aluk todolo, kematian dianggap bukanlah sebuah akhir, tetapi awal dari sebuah perjalanan panjang menuju keabadian yang mengembirakan, sehinggah orang yang menuju kesana harus dipestakan dengan kemegahan, Pesta kematian rambu solo, bukan pesta biasa, tapi pesta kematian sifatnya ritual karena berdasarkan kepercayaan tradisonal leluhur yang entah sudah ratusan dianut oleh orang toraja. Pesta rambu solo sangat banyak memelukan perlengkapan dan persyaratan untuk melaksanakan segala rangkaian upacara yang sangat rumit. dan persyaratan yang paling pokok adalah memotong kerbau dan babi, pemotongan kerbau dan babi dalam upacara rambu solo adalah perlengkapan inti yang harus ada

Rambusolo Nilai Sebuah Kematian Tana Toraja

Rambusolo Nilai Sebuah Kematian Tana Toraja

Lamanya Pelaksanaan rambu solo bisa memakan waktu beberapa hari, tergantung kemampuan dana dan kelas kasta yang punya pesta, makin banyak dana yang dimiliki maka makin panjang pelaksanaanya dan yang tak kalah pentingnya semua anggota keluarga dan family serta kerabat, harus diundang oleh karna itu harus pula dibiayai dijamu dan disiapkan akomodasinya selama pesta belangsung, dipersiapkan dalam waktu yang lama, karna harus tersedia dana yang cukup besar, tentu saja diharapkan semua keluraga ikut turut serta dalam upacara perkabungan tersebut.

Setiap Orang toraja ingin menegakkan harga diri kelurganya sehingga dalam melaksanakan upacara mereka bermaksud untuk melaksanakanya secara sempurna sehinggah untuk mencapai kesempurnaan tersebut maka keluraga simati akan menunda pemakaman orang tuanya sambil mengumpulkan dana sehinggah cukup untuk memenuhi kebutuhan

Orang Toraja sudah banyak yang memeluk agama kristen, katolik, dan Islam akan tetapi sebagian besar mereka masih setia menjaga tradisi kepercayaan leluhur mereka hal ini mereka lakukan untuk memberikan penghormatan tertinggi mereka kepada orang tua dan leluhur mereka.

Walaupun sudah sering dikritik oleh banyak pihak bawha upacara rambu solo adalah kegiatan sangat menghamburkan bayak uang, namun mereka sepertinya tidak perduli terutama yang mempunyai kemampuan ekonomi yang mapan, Ajaran aluk todolo mempercayai bahwa segala yang ada dimuka bumi ini adalah hasil ciptaan dari Tuhan YME yang disebutnya sebagi Puang Matoa dia bekedudukan diseblah utara dari kehidupan manusia Puang Matoa inilah yang pling berpengaruh dalam kehidupan dan alamya, Dialah yang memberi berkah berupa rezeki, kesejatraan, Kesehatan, keselamatan, dan kesuburan, tetapi dia juga yang memberikan bencana kecelakaan, kemalangan dan ketidak beruntungan atau pederitaan dalam kehidupan.

Selain Puang Matoa, Penganut Alukkta (Sebutan Lokal Aluk Todolo) juga percaya terhadap deata mungkin dewata dalam kepercayaan agama hindu yang merupaka utusan Puang Matoa. deata deata inilah yang memelihara dan menjaga segala ciptaan Puang Matoa para dewata berada dilangit diatas bumi dan dewata yang berada dibawah bumi mereka berkedudukan diseblah timur kehidupan manusia.

Unsur ketiga yang menjadi arah penyembahan masyrakat alukta adalah Toman Bali Puang, ketiga unsur ini adalah arwah leluhur orang toraja yang telah mencapai kedukudukan tertinggi dialam baka, Tomengbali Puang mendapat kuasa dari Puang Matoa untuk mengawasi perbuatan anak cucu keturunan mereka yang masih hidup dibumi unsur ini berkedudkan dibagian barat kehidupan manusia.

Akan tetapi tidak semua orang itu yang meninggal dapat menjadi Tomengbali Puang Matoa, mereka yang bisa mencapai tingkatan ini adalah adalah mereka yang ketika meninggalnya, dipertakan dengan upacara Rambu Solo, dengan lengkap dan sempurna dan tentu saja paling meriah.

Untuk mencapai tujuan kesempurnaan rambu solo itulah, membuat orang toraja senantiasa ingin melakukan upacara untuk orang tua mereka dengan sesempurna mungkin. untuk mencapi kesejatraan seperti yang telah dia capai ketika masih hidup dibumi diseblah selatan dipercaya sebagai tempat bersemayamnya PONG Lalondong, dea yang mejaga puya (Kematian), dipuya manusia yang sudah mati hidup kembali untuk memulai perjalanannya yang diawali pada hari pertama hinggah berakhirnya serangkaian upacara rambu solo yang dilaksanakan anak cucunya didunia. Maka dari itulah sebabnya

Orang toraja yang sudah mati barulah sempurna kematiannya setelah dirambu solokan

Akhir upacara rambusolo benar-benar ditampakkan oleh orang tana toraja, jenazah atau mayat yang sudah lama meninggal dunia disimpan selama ini dirumahnya bangun dan berjalan sendiri menuju liang batu sebagai makamnya yang teharir dan selamanya. seluruh anggota keluarga sanak saudara dan kerabat serta peserta upacara, mengiringi sang mayat dari belakang

Rambusolo Tana Toraja

Jarak rumah jenazah kepemakaman, cukulah jauh bisa bejarak beberapa kilo meter dan uniknya jazad yang sudah lama tidak bernyawa itu, Hidup Kembali dan mayat berjalan sendiri keliang batu sebagai kuburannya, Kejadian ini sulit diterima oleh akal sehat, namun Fakta yang saya saksikan seperti itu pada saat mengungjungi acara Rambu solo, dan konon jika ada yang menegur simayit mungkin karena terkejut karena baru pertama kali melihat mayat berjalan, Maka secara Spontan mayat itu akan rebah dan tidak bisa bangun kembali. Karna itu ada peringatan sangat keras utuk tidak berkata apa-apa ketika agenda perjalanan mayat sedang berlangsung. Utuk semua itulah sebabya tidak semua orang akan hadir dalam Upacara Rambusolo dibolehkan turut mengantar jenazah karena akan dikwatirkan akan terjadi seperti yang saya sebutkan diatas.

Kuburan Batu Tana Toraja

Dalam upacara-upacara ritual penganut aluk todolo memberikan persembahan ketempat arah pemujaan diatas yang terdapat dua pembagian upacara yaitu Upacara ritual yakni Rambu tuka (suka Cita) dan rambu solo (duka cita) yang saya tuliskan diatas, kedua upacara tersebut mengunakan penyimbolan perjalanan matahari mulai terbit hingga terbenam dan Upacara Rambutuka diterjemahkan sebagai upacara saat matahari mendaki kepuncak, dan diibaratkan sebagai kehidupan manusia yang sedang terbagun mulai dari bawah menuju kepada kehidupan yang lebih maju dan sukses

Sementara upacara rambusolo adalah upacara perjalana matahari menurun dari puncak menuju terbenamnya, hal ini diterjemahkan sebagai pejalanan kehidupan dari kematian menuju akhir yakni pecapaian Puya

Dalam kehidupan Orang Toraja kematian menempati tempat yang tertinggi karena upacara ini merupakan penghormatan terhir kepada orang tuanya yang berjasa mengantarkan kehidupanya kepada kesuksesan didalam kehidupan didunia ini. Maka tidak heran jika orang torja memberikan pengorbanan yang setinggi-tingginya pada saat upacara kematian orang tuanya, dengan harapan orang tuanya mencapai dunia Puya dengan segala kesejatraan.

Demikainlah persembahan dari saya yang sudah membahas mengenai Rambusolo Nilai Sebuah Kematian Tana Toraja hinggah upacara Rambusolo dimasukkan dalam potensi wisata Paling unik disulawesi selatan, Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan