DARADAENG – Pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto, dikenal menaruh perhatian khusus terhadap pendidikan. Lewat Tanoto Foundation yang didirikannya, ia berupaya meningkatkan mutu edukasi di Indonesia dengan beragam cara. Salah satunya adalah mengembangkan kemampuan para guru.

Tanoto Foundation didirikan oleh Sukanto Tanoto dan istrinya, Tinah Bingei Tanoto, pada 2001. Namun, sejatinya mereka sudah merintisnya dengan melakukan kegiatan filantropi pada 1981. Ketika itu, mereka mengawalinya dengan membangun sekolah di kawasan Besitang, Sumatra Utara.

Sejak saat itulah pendidikan dekat dengan keluarga Sukanto Tanoto. Maka, begitu Tanoto Foundation resmi berdiri, segi edukasi menjadi fokus kegiatan bersamaan dengan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup.

Selain itu, kedekatan Sukanto Tanoto terhadap pendidikan tak lepas dari pengalaman hidup. Pria kelahiran 25 Desember 1949 ini sudah putus sekolah sejak usia muda. Ia terpaksa berhenti bersekolah karena sekolahnya ditutup usai peristiwa G30S. Karena ayahnya masih berstatus sebagai warga negara asing, Sukanto Tanoto tidak bisa pindah ke sekolah lain.

Tak lama kemudian, ayah Sukanto Tanoto sakit keras dan meninggal. Otomatis mimpinya untuk bersekolah benar-benar sirna. Ia harus bekerja mengurusi toko keluarganya untuk menyambung hidup karena berstatus sebagai anak sulung.

Mulai saat itu, Sukanto Tanoto harus belajar sendiri untuk mendapatkan pendidikan. Ia melakukannya dengan rajin membaca. Bacaan apa pun dilahapnya. Selain itu, ayah empat orang anak ini juga rajin bertanya kepada siapa pun ketika tidak memahami satu hal.

Kesulitan itu tidak menghalanginya menjadi pebisnis sukses. Kini, RGE yang didirikannya sudah menjadi korporasi kelas internasional. Berkutat di bidang sumber daya, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut memiliki aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan hingga 60 ribu orang. Mereka pun tersebar tidak hanya ada di Indonesia, namun juga ada di Tiongkok, Brasil, Kanada, dan Spanyol.

Pengalaman itu membuatnya menghargai arti penting pendidikan. Oleh sebab itu, Sukanto Tanoto ingin mutu pendidikan terus meningkat dan mudah diakses oleh orang banyak.

Dalam melakukannya, peningkatan kualitas guru menjadi salah satu langkah. Ia mengarahkan Tanoto Foundation agar bisa mendongkrak kapabilitas pengajar khususnya yang bertugas di berbagai kawasan pedesaan.

Hal itu dijalankan oleh Tanoto Foundation dengan baik. Mereka akhirnya menggulirkan program yang dinamai sebagai Pelita Guru Mandiri. Ini merupakan cara untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensi pengajar.

Perwujudannya ialah beragam pelatihan yang diberikan kepada para guru khususnya yang bekerja di area pedesaan di Sumatra Utara, Riau, dan Jambi. Mereka dilatih agar mampu menerapkan proses belajar mengajar berkualitas tinggi, efektif, dan menyenangkan bagi murid, baik di dalam maupun di luar kelas.

Dalam kegiatan tersebut, para pengajar diajari berbagai topik seperti pengembangan dan penerapan pembelajaran kontekstual, pembelajaran kolaboratif antara guru dan siswa, dan pengelolaan kelas. Program ini tidak berhenti dalam satu kali sesi. Sebaliknya ini merupakan program yang berkesinambungan.

Setelah dilatih, guru diharapkan mempraktikkannya di sekolah masing-masing. Untuk memastikan bahwa guru menjaga kualitasnya dalam mengajar, Tanoto Foundation rutin melakukan kunjungan berkala ke sekolah untuk pengamatan langsung dan memberikan pelatihan penyegaran.

Selain itu, Tanoto Foundation juga melatih para guru supaya mampu menjadi peer educator. Nanti mereka yang akan ganti mengajari rekan-rekannya tentang pendidikan kontekstual yang diajarkan oleh Tanoto Foundation. Dengan ini diharapkan mereka mampu memperluas jangkauan pelajaran yang dijalankan oleh Tanoto Foundation.

MENINGKATKAN MUTU PENGAJAR

MENINGKATKAN MUTU PENGAJAR
Program Pelita Guru Mandiri yang digulirkan oleh Tanoto Foundation sudah menjangkau banyak pihak. Tercatat mereka telah mampu melatih 230 guru sebagai peer educator.

Pada akhirnya, guru-guru tersebut mampu mengambil peran aktif dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS). Akibatya guru yang tidak berpartisipasi secara langsung dalam pelatihan Tanoto Foundation serta bisa menerima tambahan keterampilan dan pengetahuan.

Selain itu, sampai Desember 2015, Pelita Guru Mandiri yang dijalankan telah menjalankan kemitraan dengan 215 sekolah. Mereka pun telah melatih 2.200 kepala sekolah dan guru. Dari jumlah itu, ada 230 guru yang bisa bertindak sebagai peer educator. Semua masih ditambah dengan pemberian beasiswa kepada 151 guru.

Untuk memastikan kinerja para guru tetap terjaga, Tanoto Foundation rutin melakukan monitor. Mereka mengadakan kunjungan berkala ke setiap sekolah. Bukan hanya itu, setiap tahun ada pula program penyegaran untuk menambah mutu pengajaran.

Buah dari kegiatan yang dijalankan Tanoto Foundation mulai terasa. Banyak guru yang akhirnya mampu mengajar secara lebih menarik. Ini membuat siswa semakin senang belajar sehingga ilmu yang disampaikan lebih mudah diterima.

Contoh konkret ada di SD Swasta RGM Blok Songo, Kota Pinang, Sumatra Utara. Guru kelas V bernama Rianti mampu mengajari tentang spektrum cahaya kepada para siswanya dengan cara kreatif.

Kalau biasanya pelajaran hanya dilakukan di dalam kelas dengan menyampaikan materi lisan, Rianti melakukan hal berbeda. Ia mengajak anak didiknya pergi ke halaman sekolah dan melakukan percobaan kecil.

Anak-anak tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota enam orang. Mereka diminta menyiapkan baskom air, kertas putih, dan cermin. Sesudahnya para siswa memasukkan air ke dalam baskom yang disiapkan.

“Masukkan cermin ke dalam baskom air dengan posisi anggota kelompok menghadap ke arah datangnya cahaya matahari. Lihat penguraian cahaya menjadi pelangi dari pantulan cermin ke arah kertas putih di hadapan kalian,” kata Rianti.

Kemudian setiap kelompok diminta untuk mengamati penguraian pemantulan cahaya menjadi pelangi dan mencatat warna pelangi yang didapatnya. Rianti mendampingi setiap kelompok dan membantu siswa dalam melaksanakan percobaan. Beberapa kelompok sudah bisa menemukan warna-warna yang tersusun di dalam pelangi. Kelompok yang masih kesulitan, ia bimbing untuk menemukannya.

“Ya, bagus anak-anak. Kalian sudah melakukan percobaan proses terjadinya pelangi. Kalau di alam, pelangi terjadi karena pembiasan cahaya. Jadi cahaya matahari yang melewati tetes hujan akan dibiaskan melewatinya,” kata Rianti. “Proses pembiasan ini yang memisahkan cahaya putih menjadi warna spektrum seperti warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu atau diberi singkatan mejikuhibiniu. Kemudian warna-warna itu memantul di belakang tetes hujan, yang akibatnya cahaya tampak melengkung menjadi pelangi.”

Penjelasan setelah praktik membuat siswa mudah memahami. Hal tersebut terbukti dari kemampuan mereka dalam mempresentasikan hasil percobaan dengan baik.

Rianti mengaku memiliki kemampuan mengajar kreatif berkat bimbingan Tanoto Foundation. “Sebelum mengikuti pelatihan Tanoto Foundation, saya lebih banyak menjelaskan materi di depan kelas, memberi latihan soal, dan menilai hasil ujian siswa. Setelah didampingi oleh fasilitator dari Tanoto Foundation, saya memiliki banyak model dan metode pembelajaran yang menyenangkan untuk siswa sehingga membuat mereka lebih mudah memahami materi yang diajarkan,” ujar Rianti.

Inilah bukti bahwa program Pelita Guru Mandiri telah berhasil dengan baik. Kualitas guru mampu meningkat seperti yang diharapkan oleh Sukanto Tanoto.